PertanyaanUmum - Konsep Diri Mahasiswi yang Menikah Muda (Studi Deskriptif Kualitatif Mengenai Konsep Diri dengan Komunikasi Antarpribadi pada Mahasiswi Setelah Menikah Usia Muda di Kota Medan) dikompilasi oleh 123dok.com. Top PDF b. Pertanyaan Umum - Konsep Diri Mahasiswi yang Menikah Muda (Studi Deskriptif Kualitatif Mengenai Konsep Diri
Supayakonseling bisa berjalan efektip konselor hendaknya mempunyai kompetensi atau kemampuan yang luas dan karakteristik sebagai berikut;(1)Konselor lintas budaya sadar terhadap nilai-nilai pribadi yang dimilikinya dan sumsi asumsi terbaru tentang perilaku manusia. (2)Konselor lintas budaya sadar terhadap karakteristik konseling secara umum.(3
PENDAHULUAN 1. Latar Belakang. Komunikasi adalah keterampilan yang sangat penting dalam kehidupan manusia, dimana dapat kita lihat komunikasi dapat terjadi pada setiap gerak langkah manusia. Manusia adalah makhluk sosial yang tergantung satu sama lain dan mandiri serta saling terkait dengan orang lain dilingkungannya.
Contohmodel fase Hartsuogh dan Echterling dari pemanggilan krisis untuk kampus atau komunitas pusat krisis ini dapat dipake pada semua situasi konseling. Figur 9.3 mengilustrasikan fase ini afektif atau emosional, fase-fase, kotak 1 dan 3 meliputi perasaan itee: kejujuran pada konselor dan perasaan tentang diri dan masalah.
3 THE COMMUNICATION PROCESS. Communication is the sharing of information, ideas, thoughts and feelings. Tidak hanya kata-kata yang diucapkan, tetapi. ekspresi wajah, vokal, postur tubuh, dan sikap. yang lain. Supaya efektif, harus tahu proses komunikasi. Tujuan semua komunikasi adalah understanding.
Kelas: C KOMUNIKASI DAN KONSELING 1. Komunikasi hanya dapat terjadi jika terdapat beberapa unsur di dalamnya. Berikut unsur-unsur komunikasi menurut Aristoteles, kecuali : a. Siapa ynag berbicara b. Siapa yang mendengarkan c. Pemberian umpan balik d. Apa yang dibicarakan (Halaman 26) 2.
P enggunaan komunikasi dengan harapan memberikan outcome (hasil) yang Bidan scr bertahap belajar mengenai dan mengatasi berbagai perasaan yg dialaminya, spt rasa malu, marah, kecewa dan putus asa Meningkatkan komunikasi interpersonal, kuadran 1 perlu lebih terbuka, cara adalah dengan :
I Pelayanan kefarmasian sangat penting untuk diperhatikan bagi seorang farmasi. Konseling kepada pelanggan merupakan salah satu bagian dari pelayanan farmasi, karena baik tenaga farmasi maupun pelanggan memperoleh keuntungan dari kegiatan konseling. Masyarakat awam menganggap petugas apotek, apoteker atau asisten apoteker adalah orang yang
Langkahmudah menjadi pribadi yang bisa berkomunikasi secara baik dengan siapa pun adalah dengan mempelajarinya lebih dalam. Simaklah informasi berikut ini mengenai tujuan komunikasi interpersonal dalam kehidupan masyarakat, lengkap dari definisi hingga klasifikasinya telah dirangkum digilib.uinsby.ac.id dan
MataAjaran : Komunikasi dan Konseling dalam Praktik Kebidanan Penanggung Jawab Mata Kuliah : Dyah Muliawati, S.ST Bobot : 2 SKS /Teori =1; Praktik=1
hlsr. - Komunikasi interpersonal dikatakan efektif jika pesan yang diterima dan dimengerti sama seperti yang dikirimkan komunikator. Dalam bentuk komunikasi apa pun, termasuk interpersonal, keefektifan komunikasi sangat penting. Apabila komunikasinya efektif, berarti tujuan komunikasi yang ditetapkan komunikator Deddy Mulyana dalam buku Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar 2010, komunikasi interpersonal adalah proses komunikasi antara orang-orang secara tatap muka, yang memungkinkan tiap pesertanya menangkap reaksi orang lain secara langsung, baik verbal atau nonverbal. Komunikasi interpersonal berperan penting dalam kehidupan manusia. Mulai dari mempersuasi hingga menjalin hubungan akrab dengan orang lain. Syarat komunikasi interpersonal dikatakan efektif Dikutip dari buku Komunikasi Interpersonal dan Hubungannya dalam Konseling 2021 oleh Siti Rahmi, komunikasi interpersonal dikatakan efektif jika memenuhi tiga syarat utama, yakniPesan yang diterima komunikan dan yang dimaksud komunikator sama Sebuah proses komunikasi, baik interpersonal atau lainnya, akan dikatakan efektif jika komunikator dan komunikan mencapai kesamaan makna, berupa pemahaman dan pemaknaan pesan yang sama. Baca juga Komunikasi Interpersonal Pengertian Menurut Para Ahli dan Fungsinya Ditindaklanjuti dengan perbuatan sukarela Komunikasi interpersonal dikatakan efektif jika diikuti perbuatan sukarela dari komunikannya, sebagai salah satu bentuk tanggapan atas pesan yang diterimanya. Meningkatnya kualitas hubungan antarpribadi Setelah kesamaan makna dan perbuatan sukarela oleh komunikan, proses komunikasi interpersonal akan dikatakan efektif jika dibarengi dengan meningkatnya kualitas hubungan antarpribadi. Misalnya dari yang semula kurang akrab menjadi lebih akrab dan dekat. Karakteristik efektivitas komunikasi interpersonal Joseph A. Devito menjelaskan bahwa menurutnya ada lima karakteristik efektivitas komunikasi interpersonal, yaitu Openness keterbukaan Artinya individu harus mau terbuka pada individu lainnya ketika berkomunikasi. Terbuka diartikan mau menceritakan masalah atau sekadar mau memberi tanggapan atas informasi yang diterimanya.
Bagi konselor pemula biasanya sangat tergoda untuk mengajukan pertanyaan dengan banyak. Jika ini anda laku-kan, maka anda perlu bertanya pada diri anda sendiri, "Apa tujuan saya bertanya kepada konseli?" Jika konselor terlalu banyak memberikan pertanyaan kepada konseli, maka tampak bahwa itu bukan proses konseling, tetapi proses interogasi, dan hal ini akan membuat konseli akan lebih tertutup dan menarik diri. Tujuan konseling antara lain adalah mengeksplorasi atau menggali permasalahan konseli. Tetapi eksplorasi ini tidak sepenuhnya di tangan konselor. Jika konselor terlalu banyak bertanya, ada kemungkinan bahwa konseli akan berbicara setelah ditanya oIeh konselor. Sehingga konseli akan menjawab sebatas apa yang ditanyakan oleh konselor. Pertanyaan yang terlalu banyak akan membahayakan hubungan antara konselor dan konseli. Sebab ada kemungkinan konselor bertanya sesuatu yang menyimpang dari apa yang diinginkan oleh konseli. Jika konselor akan mengajukan pertanyaan kepada konseli, maka harus jelas tujuan dan harapan jawaban yang sekiranya akan diberikan oleh konseli. Jika hal ini tidak dipikirkan, maka proses konseling akan tidak berjalan sebagaimana mestinya. Ada dua katagori atau penggolongan pertanyaan. Dua katagori pertanyaan tersebut adalah "pertanyaan terbuka/open question dan "pertanyaan tertutup/closed question". Kedua macam pertanyaan itu dapat dipergunakan selama proses konseling dan sangat penting bagi anda untuk memahami perbedaan di antara keduanya. Pertanyaan tertutup Closed question adalah perta-nyaan yang mengarahkan pada jawaban yang spesifik. Dan biasanya jawaban yang diharapkan pun sangat pendek. Jawaban itu seperti, "Ya” atau “Tidak” Sebagai contoh "Apakah kau datang ke sini dengan naik bus?” atau, “Berapa lama anda tinggal di Surabaya?”. Selama proses konseling, anda bisa memberikan pertanyaan tertutup berulang kali, sebatas kebutuhan yang, spesifik. Hanya saja, setelah konseli memberikan jawaban, sebisa mungkin konseli didorong untuk memberikan jawaban lebihl lanjut. Pertanyaan tertutup yang diberikan oleh konselor sangat berbeda dengan pertanyaan yang disampaikan oleh jaksa penuntut di ruang pengadilan. Jaksa akan meminta jawaban yang langsung tanpa ada tambahan lain. Tetapi konselor bukan jaksa, konselor akan memberikan kebebasan bagi konseli untuk dapat berbicara lebih terbuka dan lebih dalam. Pertanyaan terbuka Open question adalah pertanyaan yang sangat berbeda dengan pertanyaan tertutup. Pertanya-an ini memberikPertanya-an konseli suatu ruPertanya-ang yPertanya-ang luass untuk menggali apa saja yang ada dalam dirinya serta mendorong konseli untuk lebih bebas. Jika konselor bertanya, "Apakah anda ke sini naik bus?" maka jawabannya akan “Ya atauTidak". Tetapi jika konselor bertanya, "Bagaimana cara anda bepergian ke sini?" Maka konseli mempunyai kebebasan untuk menjawab. Di bawah ini ada beberapa contoh perbedaan antara pertanyaan tertutup dengan pertanyaan terbuka. Contoh 1 . Tertutup Apakah anda marah? Terbuka Bagaimana perasaan anda? Contoh 2. Tertutup Berapa anak anda? Terbuka Bisakah anda ceritakan tentang anak-anak anda? Contoh 3. Tertutup Apakah anda sering berdiskusi dengan istri anda? Terbuka Bagaimana hubungngan anda dengan istri anda? contoh 4. Tertutup Apakah ayah anda menyuruh anda menemui saya? Terbuka Apa yang membuat anda datang kemari? Contoh 5. Tertutup Apakah perubahan itu mengganggu anda? Terbuka Bagaimana perubahan itu bisa mempengaruhi anda? Jika anda melihat. Pertanyaan tertutup yang diajukan oleh konselor maka tampak bahwa konseli tidak mempunyai kesempatan untuk mempergunakan imajinasinya dalarn memberikan jawaban. Jawaban yang diberikan akan sangat pendek dan tidak akan mendorong konseli untuk lebih kreatif dan berbagi informasi baru yang dipunyainya. Pertanyaan terbuka akan sangat berbeda dengan per-tanyaan tertutup. Sebab melalui perper-tanyaan terbuka seringkali konselor mendapatkan jawaban yang tidak terduga. Sebagai contoh, anda bertanya, "Ceritakan tentang anak-anak anda". Jawaban yang anda harapkan adalah jumlah anak konseli anda. Tetapi konseli anda bisa menjawab, "Anak-anak saya sangat cantkl. dan sangat bahagia", atau, "Anak-anak saya sedang tumbuh, saya dan suami saya sangat senang dapat hidup bersama mereka”. Dengan demikian jelas bahwa pertanyaan terbuka akan dapat memberikan berbagai macam jawaban. Hal ini tidak akan dapat diketahui oleh konselor sampai konseli menyatakannya dengan ungkapan verbal. Selain itu, pertanyaan terbuka lebih mengarahkan konseli untuk merasakan bahwa konselor memperhatikan hal-hal yang berkaitan dengan dirinya. Akan lain haInya jika konselor mempergunakan pertanyaan tertutup. Konseli akan merasa bahwa perta-nyaan itu hanya untuk kebutuhan konselor saja. Dalam pelaksanaan konseling, sebaiknya dihindari pertanyaan dengan mempergunakan kata tanya "Mengapa”. Hal ini dikarenakan, jika konselor mempergunakan kata tanya "Mengapa", pertanyaan itu cenderung untuk mengungkap pemikiran atau alasan-alasan konseli melakukan sesuatu. Tetapi tidak akan dapat mengungkap apa yang sedang terjadi dalam diri dan perasaannya. Pertanyaan tertutup cenderung untuk mengge-neralisasikan jawaban di luar. diri konseli, sehingga Jawaban itu tidak, tampak berasal dari diri konseli sendiri, dan terkadang tidak meyakinkan sehingga dapat dikatakan bahwa pertanyaan "Mengapa" itu cenderung menyudutkan atau merasionalkan. Dalam hal ini ada tiga tujuan mengajukan pertanyaan, yaitu; a untuk mendorong konseli agar terbuka dan tidak menutup diri, b untuk membantu konseli agar dapat lebih spesifik dan lebih konkrit; dan c untuk membantu konselor mendapatkan pemahaman yang jelas dari situasi konseli. Tujuan pertama dari membuat pertanyaan adalah agar konseli lebih terbuka dan tidak menutup diri. Hal ini telah dibicarakan dimuka. Sehingga memberikan pertanyaan terbuka akan lebih menguntungkan jika dibandingkan dengan pertanyaan tertutup. Tujuan kedua adalah untuk membantu konseli agar dapat lebih spesifik dan lebih konkrit. Konseli terkadang memberikan jawaban yang sangat umum. Hal tersebut tidak akan banyak membantu bagi konselor dan konseli sendiri karena sangat tidak mungkin untuk berpikir secara jelas tentang sesuatu permasalahan jika disampaikan secara bias dan melalui bahasa yang tidak spesifik Konselor membantu konseli untuk mengklasifikasi cara berpikir konseli. Lebih jelasnya, jika konseli memberikan kalimat yang samar-samar seperti "Hal-hal macam itu selalu mengganqgu saya". Kalimat "Hal macam-macam" merupakan ungkapan yang tidak akan dapat dimengerti atau tidak jelas. Untuk hal tersebut, konselor dapat menanyakan, "Apa yang anda maksud dengan hal yang macam-macam” atau pernyataan konseli sebagai berikut, "Saya tidak sanggup menahannya lagi". Kata "nya" dalam ungkapan konseli tersebut masih samar. Sebaiknya, kon-selor bertanya, "Siapa yang yanq membuat anda tidak sanggup menahan". Tujuan ketiga mempunyai kesamaan dengan tujuan kedua, yaitu membantu konselor mendapatkan pemahaman yang jelas tentang situasi/keadaan konseli. Terkadang konseli bercerita terlalu banyak sehingga cerita yang disampaikan sangat sulit untuk dipahami. Sebagai konselor, sebelum menanyakan suatu informasi kepada konseli, anda perlu mengetahui apakah informasi itu dibutuhkan atau tidak. Kemudian, jika anda tidak mempunyai informasi tersebut, apakah anda masih dapat membantu konseli? Jika jawaban itu "Ya", maka anda boleh membuat pertanyaan. Kebanyakan memberikan pertanyaan akan membuat konseli menutup diri dan menarik diri. Ingatlah bahwa parafrase dan refleksi perasaan akan dapat memotivasi konseli untuk dapat lebih terbuka. Oleh karena itu disarankan bagi anda untuk memberikan pertanyaan seba-tas pada tiga respon serta refleksi yang telah dibahas.
Test your understanding of Interpersonal communication concepts with quick multiple choice quizzes. Missed a question here and there? All quizzes are paired with a solid lesson that can show you more about the ideas from the assessment in a manner that is relatable and unforgettable.